:: Rabu, 8 09 2010 ::

SK Trimurti, Saksi Mata Proklamasi 17 Agustustus 1945

Enam puluh tahun yang lalu, Bung Karno-didampingi Bung Hatta-memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Saat ini hampir semua saksi mata dari peristiwa bersejarah itu sudah meninggal dunia. Kecuali satu dua orang, di antaranya SK Trimurti.

"Saya ikut serta dalam upacara proklamasi 17 Agustus 1945 tersebut. Saya sangat gembira dan terharu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Indonesia bisa merdeka. Suasana kemerdekaan ini disambut gegap gempita oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh daerah," tutur tokoh pergerakan yang sudah sangat sepuh itu.

Wanita yang akrab dengan panggilan Bu Tri itu tampak dalam foto langka pengibaran Sang Merah Putih usai pembacaan proklamasi. Membelakangi kamera, Bu Tri adalah perempuan berkebaya yang berdiri di sebelah kanan Ibu Fatmawati Sukarno.

Kehadiran Bu Tri di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada hari Jum'at 17 Agustus 1945, bukan kebetulan belaka. Beberapa hari sebelum peristiwa bersejarah itu, Bu Tri telah berada di rumah Bung Karno. Ia dipanggil Bung Karno dari Semarang, untuk "membantu Bung Karno." Sebuah alasan yang diajukan Bung Karno untuk mengeluarkan perempuan pejuang itu dari penjara.

Bu Tri memang murid Bung Karno. Saya merupakan salah seorang pengikut kursus kader yang diadakan oleh Bung Karno dan Partindo pada sekitar tahun 1933 di Bandung. "Saya tertarik masuk dunia pergerakan, karena pidato-pidato Bung Karno yang menggelegar di rapat-rapat umum Partindo, yang diadakan dimana-mana. Agaknya kegiatan seperti itulah yang menyebabkan Partindo lekas menjadi partai militan dengan anggota yang banyak sekali," tutur Bu Tri di rumahnya di kawasan Kramat, Jakarta.

Padahal menjadi anggota pergerakan bukan tanpa resiko. Dalam upaya menghalangi Indonesia memperoleh kemerdekaan, pemerintah kolonial selalu berupaya merintangi rakyat untuk ikut pergerakan menuju kemerdekaan. Para pegawai negeri dilarang menjadi anggota Partindo. "Kalau ada yang nekad, pegawai negeri itu dicopot dari jabatannya dan menjadi penganggur. Kenyataannya, bekas pegawai negeri yang sudah menjadi penganggur itu sukar sekali mencari pekerjaan baru. Oleh karena itu, jarang pegawai negeri yang menjadi anggota Partindo," kata mantan wartawati ini. "Saya sendiri waktu itu masih menjadi pegawai negeri, yaitu guru yang mengajar sekolah dasar negeri untuk kaum perempuaan. Karena sangat tertarik dengan pidato-pidato Bung Karno dan saya ingin masuk Partindo, saya mengajukan surat permohonan berhenti kerja kepada pemerintah Belanda."

Setelah berhenti dari pekerjaannya, Bu Tri pindah ke Bandung, tempat kantor pusat Partindo. Ia kemudian tinggal di rumah Bung Karno. "Hubungan saya dengan Bung Karno dan Bu Inggit sangat dekat, seperti layaknya saudara," tutur Bu Tri.

Dalam waktu yang singkat Bu Tri sudah menjadi salah seorang kader Partindo. "Di sini kader-kader digembleng mati-matian mengenai perjuangan politik dan tujuan Indonesia merdeka," lanjutnya. Orang yang benar-benar ingin menjadi kader, tidak mudah. "Ujian-ujian diadakan sewaktu-waktu, agar kader memahami betul apa yang dikerjakan di bidang politik. Dan saya bangga menjadi kader Bung Karno, karena bercita-cita Indonesia Merdeka."

Ketika Bung Karno dibuang ke Ende, Bu Tri seperti anak ayam kehilangan induk. Ia sempat berpindah-pindah ke berbagai kota. Tetapi cita-citanya untuk kemerdekaan Indonesia tidak pernah berubah atau luntur. Karena cita-cita itu, Bu Tri sering keluar-masuk penjara. Sampai pada bulan Agustus 1945, ketika ia mendapat perintah Bung Karno agar pindah ke Jakarta.

Menurut Bu Tri, suasana menjelang 17 Agustus 1945 sangat menegangkan, karena balatentara Jepang mendapat tugas mempertahankan status quo, sehingga merintangi Indonesia merdeka.

Dalam pengamatan Bu Tri, Bung Karno sangat berperan dalam perjuangan mencapai Indonesia Merdeka, dengan berbagai pemikirannya. Kalau kemudian Bung Karno berkolaborasi dengan Jepang, itu adalah cara yang dipakai Bung Karno untuk mencapai tujuan itu, dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.

Sikap menghindari pengorbanan yang sia-sia itu mungkin yang membuat sejumlah pemuda tidak sabar, sehingga melakukan penculikan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta.

"Saat peristiwa penculikan itu saya tidak tahu, sebab masing-masing punya tugas sendiri. Saya mendapat tugas menggarap organisasi wanita, agar mereka memberikan bantuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Dengan berbagai bentuk bantuan, mulai dari makanan dan menyembunyikan orang yang perlu disembunyikan, dan lain-lain. Jadi organisasi wanita saat itu sangat berperan dan berhasil mendukung perjuangan kemerdekaan," tutur Bu Tri.

Setelah proklamasi kemerdekaan, tugas Bu Tri bukannya berakhir. "Saya mendapat tugas untuk menerangkan kemerdekaan ini ke daerah-daerah. Jadi bukan di Jakarta saja. Ongkosnya harus cari sendiri…"

Ketika pergi ke Semarang, Bu Tri naik mobil curian dari orang Jepang. "Kita pakai mobil itu untuk keliling ke daerah-daerah," kenang Bu Tri. Karena di zaman pendudukan Jepang ban mobil sulit diperoleh, pernah Bu Tri naik mobil dengan ban bekas yang diisi jerami.

Bu Tri sangat dekat dengan Bung Karno, bahkan ia dianggap adik. Di depan orang banyak, Bung Karno sering, berkata, "Tri, kowe ke sana!" atau "Kowe ambil itu!" Kedekatannya itu membuat Bu Tri tahu banyak mengenai sifat-sifat Bung Karno. Menurut Bu Tri, Bung Karno memiliki rasa perikemanusiaan yang sangat tinggi. Itu yang harus saya akui. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang. "Semua orang bisa dekat dan akrab dengan beliau," kata Bu Tri menutup wawancaranya. (ALDO)

..kembali


Homepage
Yayasan Bung Karno
Artikel
Biografi
Galeri Seni
Pustaka
Kirim Email
Buku Tamu
Forum Diskusi

Meluruskan Sejarah

Bung Karno,
The Trendsetter


Hari Lahir Pancasila,
1 Juni 1945


Bung Karno dan Marxisme

Tulisan Dr. Asvi Warman Adam

Levana dan Koleksi Bung Karno

Di Bawah Bendera
Revolusi, Jilid 1


Buku Cergam Seri Bung Karno

Bung Karno Sang Arsitek



Apa pendapat Anda mengenai situs Yayasan Bung Karno ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
Buruk



.: lihat hasil :.