:: Rabu, 8 09 2010 ::

SOEKARNO DALAM PERJALANAN SEJARAH BANGSA
Oleh: Asvi Warman Adam

Buku ini diterbitkan ulang pada waktu yang tepat, tahun 2005 ketika Indonesia merayakan peringatan 60 tahun kemerdekaannya. Saat ini pula saat yang tepat mengingat bahkan melihat kembali peran Soekarno dalam sejarah perjuangan bangsa. Apakah pemikirannya masih relevan dalam situasi negeri yang ditimpa krisis berkepanjangan dan dihempas badai utang serta dalam kondisi internasional yang kurang menguntungkan dunia ketiga?

Tahun 2005 adalah tahun paling bersejarah. Kita akan memperingati beberapa peristiwa besar yang pernah terjadi dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara yaitu 60 tahun proklamasi, 50 tahun KAA Bandung, 40 tahun tragedi nasional 1965 dan 30 tahun kasus Timor Timur.

Proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 merupakan batas waktu bahwa kita telah memasuki zaman baru, tidak lagi terjajah tetapi sudah dipimpin oleh bangsa sendiri. Sepuluh tahun kemudian (1955) kita berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Ini merupakan prestasi bidang internasional yang sangat signifikan karena menempatkan Indonesia sebagai negara dunia ketiga yang terpandang di dunia. Siapa menyangka satu dekade kemudian terjadi tragedi nasional yang terbesar dalam sejarah Indonesia. Tanggal 30 September 1965 meletus G30S yang dampak dan sakitnya (bagi korban dan keluarganya) masih terasa sampai sekarang. Tahun 1975 tentara Indonesia memasuki Timor Timur dan kemudian daerah itu menjadi propinsi Indonesia yang ke-27 dan tahun 1999 wilayah itu lepas kembali menjadi sebuah negara merdeka, Timor Leste. Setelah 60 tahun merdeka, perdebatan tentang siapa yang lebih berperan dalam mencetuskan proklamasi: para pemuda atau pemimpin yang lebih senior seperti Soekarno, Hatta dan Soebardjo, sudah menjadi klise. Apakah kita merdeka berkat perjuangan sendiri atau suatu insidensi sejarah, kini tidak begitu relevan. Jauh lebih penting untuk melihat faktor apa yang menyebabkan kita masih eksis dan bersatu seperti sekarang. Apa kekuatan yang mendalam dan luar biasa (Jean-Baptiste Duroselle menyebutnya force profonde) yang menyebabkan kita bertahan sebagai bangsa ? Mengapa RIS (Republik Indonesia Serikat) hanya mampu bertahan setahun, setelah itu kenapa semuanya ingin kembali bersatu dalam wadah Republik Indonesia. Mengapa rakyat Aceh mau menyumbang pesawat terbang Seulawah bagi Republik Indonesia ? Kenapa rakyat Sumatera Barat rela mengumpulkan iuran bagi republik yang masih muda usia ketika itu ? Kenapa ribuan warga kota Surabaya rela mengorbankan jiwa-raganya melawan kembalinya penjajah?

download artikel format pdf
..kembali


Homepage
Yayasan Bung Karno

Biografi
Galeri Seni
Pustaka
Kirim Email
Buku Tamu
Forum Diskusi

Meluruskan Sejarah

Bung Karno,
The Trendsetter


Hari Lahir Pancasila,
1 Juni 1945


Bung Karno dan Marxisme

Tulisan Dr. Asvi Warman Adam

Levana dan Koleksi Bung Karno

Di Bawah Bendera
Revolusi, Jilid 1


Buku Cergam Seri Bung Karno

Bung Karno Sang Arsitek



Apa pendapat Anda mengenai situs Yayasan Bung Karno ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
Buruk



.: lihat hasil :.